19.12.08

sister

aku dan sepupuku akrab sejak kecil. kita seperti adik-kakak, kadang rukun kadang sebel-sebelan. hari sabtu malam kira-kira minggu lalu sepupuku itu tiba-tiba telpon dari banjar. dia beberapa tahun ini tinggal di kalimantan. suaminya, arkeolog, kerja di sana.


dia: di mana? (dalam bahasa jawa)
aku: lagi di kantor joe
dia: malem minggu ngantor?
aku: enggak, ambil data aja kok. 
dia: oh, ini aku mau kasih tau. aku mau ke jakarta, mungkin minggu depan. sendirian.
aku: oya, tumben bener, ada apa nih. bebe penelitian ya?
dia: iya, dia lagi sibuk mau tutup buku, terus mau ke luar kota sebentar. banyak yang aku mau ceritain. tapi tar aja ya, ceritanya panjang banget. sampe ketemu ya, daaa...
aku: ok deh, daaa...

dan tadi, curhatlah dia panjang lebar di sofa dekat tamanku. masalahnya numpuk-numpuk, dia memang sedang stres berat. salah satunya, dia gagal lagi perawatan untuk punya baby. padahal programnya sudah lama sekali dan aku tahu dia sangat yakin bisa berhasil. aku cuma bisa manggut-manggut bingung mau ngomong apa. walau lagi stres, dia kelihatan happy dan "dewasa", maksudnya tidak larut, bahkan bisa bantu masalah orang lain. dia tidak mau orang jadi kasihan sama dia.

tapi ada satu hal yang agak berubah, dia jadi terlalu sering menasehati, kamu harus gini, gitu dan agak memaksakan, apalagi kalau aku punya argumen sendiri. malas lama-lama dengernya, kayak ortu-ortu yang khawatir berlebihan.

hmm.. mengesalkan sih, tapi ya biarlah, sebetulnya aku kasihan sama dia. aku anggap dia tidak mau masalahnya itu jadi masalahku juga. begitulah jadinya, kata-katanya terasa sangat menggurui. mungkin itu bentuk pelampiasan dia.



0 Comments:

Post a Comment



Template by:
Free Blog Templates